Sudahlah Bung, ayo ngebis saja!

Saat menulis tulisan ini saya sedang perjalanan menuju tanah perantauan. Tarikan armada baru bus Damri cukup nyaman membawa saya menikmati gemerlap lalu lintas kota Pahlawan sebelum hanyut digulung ombak ke pulau garam. Separuh perjalanan menggantung, akhirnya dapat jatah kursi duduk juga. Lumayan empuk meski tak seempuk kursi anggota dewan.

Bus Damri yang saya tumpangi cukup rapi, bersih, bisa bergelantungan kalo nggak dapet kursi. Dan gelantungan disini nggak sesakit digantungin si doi kok gengs. Pokoknya recommended sekali. terutama buat kamu yg mau keliling Surabaya.

Saya amati penumpangnya rata-rata mahasiswi, pekerja kantoran, sisanya lansia. Sopirnya cukup santai dan kondekturnya juga asyik. Bahkan kelewat asyik dengan caper ke penumpang ciwi-ciwi, deketin, Tanya mau kemana lah? Kuliah dimana lah? Membuat saya risih bercampur iri. Meski lebih banyak irinya. Bagaimana nggak iri gengs, cak kondektur itu bisa-bisanya duduk disamping kiri saya dan ciwinya itu disamping kirinya cak kondektur. Kan kalo nggak ada cak kondektur saya bisa geser satu kursi ke kiri dan saya ajak ngobrol si ciwinya. Ah yasudah akhirnya saya membuang pandangan keluar. Diluar justru pemandangan yang saya lihat  tak kalah memilukan. Sebuah lalu lintas Surabaya petang yg cukup padat merayap. Nggremet. 

Gemerlap lampu-lampu kendaraan bertaburan di jalanan. Rata-rata didominasi mobil-mobil pribadi keluaran terbaru. Jumlahnya cukup banyak. Membeludak memenuhi isi jalan. dan jika mau menerawang jauh kedalam isinya hanya dihuni satu sampai dua orang saja. sebuah fenomena kepadatan sampai kemcetan jalan yang sangat jelas siapa yang harus disalahkan? Yup, orang-orang seperti merekalah yang mustinya bertanggungjawab atas kemacetan yang terjadi dijalanan. Dibalik itu ada juga yang harus bertanggung jawab. Yup, mereka adalah perusahaan mobil. Merekalah pengobral besi-besi cantik  dengan iming-iming kredit dengan angsuran murah (tentu bukan klasifikasi mrah untuk golongan mahasiswa kere seperti saya). Mereka apa pernah  membatasi pembelian untuk satu keluarga hanya diperkenankan beli satu buah? Tentu tidak kan? Apa mereka pernah memikirkan efek jangka panjang dari membeludaknya kendaraan? Tidak juga bukan? Padahal kalo kita tengok Negara asal komoditi tersebu, jepang misalnya. Disana warganya nggak kegatelan naik mobil. Rata-rata penikmat angkutan missal. Bus atau kereta. Ah kalo ngomongin kereta di jepang saya jadi keinget adegannya public jav. mbak mariyem ozawa and the gens. Ahsudahlah kenapa juga bawa-bawa jepang.

Saya hanya bisa berandai-andai mereka semua (pemobil) beralih ke angkutan umum. Pasti jalanan akan lancer, bisa melenggang dijalanan dengan tenang nggak takut telat.  Saya sampai ingin turun lalu menegur mereka dengan mengetuk kaca mobilnya. Begitu kaca terbuka saya langsung bilang, paklek, om, tante, sudah! Ayo naik bus saja! Sebelum saya sadar dari khayalan, terlintas wajah John Lennon dengan kacamata ikoniknya tersenyum lebar.

Begitu saya sadar ternyata bus yang saya tumpangi sudah sampai di jalan ahmad yani, tepat didepan Royal Plaza yang terhampar trotoar lumayan lebar. Lebarnya cukuplah kalo buat nobar liga inggris se-RT. Jalanan begitu padat merayap, dan ironisnya trotoar yang lebar nan kinyis-kinyis itu diganyang oleh pemotor nakal. Entah demi alasan gupuh ngencuk atau apalah mereka dengan tanpa dosanya terhadap pejalan kaki juga ibu pertiwi terus melenggang dengan kuda besinya. Ada salah satu yang saya lihat putar balik (entah baru sadar dan merasa bersalah atau menyadari ditrotoar juga tidak kalah macetnya) selebihnya tetap santai tancap gas. Ah semoga tetap selamat sampai tujuan lur! Saya hanya bisa mengheningkan cipta. R.I.P Trotoar. Muncul niat iseng saya untuk mengabadikan fenomena tersebut lewat kamera hp saya yang beresolusi rendah. Entah fenomena tersebut terjadi setiap harinya atau hanya hari itu saja. Semoga salah satu pembaca yang kebetulan sering melintasi tempat tersebut bukanlah salah satunya. Karena saya masih percaya pengguna jalan disurabaya, khusunya pemotor masih banyak yang dewasa dan taat berkendara di lalu lintas.

Sampai disini tulisan saya karena sepertinya bus yang saya tumpangi sudah memasuki area pelabuhan. Itu artinya sudah saatnya saya ganti ke armada laut. Salam anak jalanan!

GERAKAN “Surabaya NgeBus” DI KOTA SURABAYA



Baca juga: caping gunung dan refleksi masyarakat desa

0 komentar: