Tentang Hujan

 ilustrasi by: Rui Palha


HUJAN DAN KEHILANGAN

Apakah kau masih seperti yang dulu
Mambaui hujan
Melebur kedalam setiap bulirnya

Apakah kau masih suka membaca sabda alam
Lalu menggelisahkan ketidakpastian-nya
Padahal kau sendiri tau
Tidak ada yang lebih pasti selain ketidakpastian itu sendiri

Kau yang pernah mesra
Keluarlah, tengadahkan wajahmu memandang mega mendung
Tlah ku jatuhjan diriku, juga seluruh kegelisahanku

Lalu kita sama-sama tertawa
Kita yang tak berhak atas apa-apa
Tak pernah pantas larut dalam kehilangan

(Malang, 29 Oktober 2016)





NOVEMBER RAIN 

Seniman jalanan membawakan tembang perlawanan 
Terdengar mirip nyanyian bimbang
Diluar, air Tuhan tumpah ruah di jalanan
Sisanya membasahi jendela bis kota

Rindu selalu ingin merawat ingatan
Dan semesta selalu punya cara untuk menghadirkannya 
Lalu, kenangan mana lagi yang ingin kau dustakan?
Meski hujan fana, tapi rindu abadi

(Bangkalan, 23 Nov 2016)
 




PERGI UNTUK HUJAN

Menjelang subuh
Menanti hujan
Segelap inikah rindu
Sekering inikah menunggu

Malam yang gelisah
Diantara terpejam atau terjaga
Dini hari yang terkutuk
Dan pagi yang tak diharapkan

(Lamongan, 27 Nov 2016, 3:25 AM)





MENDUNG DIWAJAHMU

Mendung diwajahmu
Kemarau dihatiku
Gemuruh yang meletup didadamu
Menggugurkan seluruh daun cintaku

Kau yang diam menunggu hujan
Dan aku yang berlari mengejar matahari
Sampai bertemu dipenghujung pelangi, kekasih.

(Lamongan, 27 Nov 2016)






PAYUNG

Rindu adalah kemarau panjang
Hujan adalah pertemuan
Segalanya yang berawan mendung
Tak pernah kuharapkan, selain hujan.

Genggaman tanganmu yang gemetar
Adalah alasanku merelakan basah
Eratkan, dan jangan pernah kau lepas

Aku tak pernah takut badai
Sekalipun itu taufan
Aku hanya takut akan satu hal
Kau berbagi payungmu dengan dia

(Lamongan, 28 Nov 2016)



Baca juga: Sajak kerinduan
 

0 komentar: