Das Kopitalisme
Setiap
orang pasti mempunyai teman. dan diantara teman-teman itu, ada yang
bernama sahabat, mereka adalah yang sedikit lebih mengerti tentang diri kita,
tentang kebiasaan, rahasia, atau impian-impian kita. mereka juga tempat berbagi cerita dan
emosi. Sahabat adalah kampung halaman, dimanapun kita pergi, akan ada saat
dimana rindu menuntun kita untuk kembali.
ada
sebuah cerita tentang pertemanan diantara lima anak manusia dengan latar belakang yang
berbeda. berawal dari teman sekolah biasa, diantara ratusan teman lainnya yang jika ketemu
hanya sekedar menyapa sewajarnya, kemudian suatu saat arus waktu membawa kelimanya pada muara yang mendekatkan mereka, menjadi teman ngopi yang mesra dengan
obrolan yang absurd, sedikit kritis, dan sesekali melankoli.
Saya tidak pernah membayangkan
sebelumnya akan menjadi bagian dari lingkaran pertemanan tersebut. garis yang menghubungkan saya dengan bongkahan impian-impian usang utnuk menemukan kembali keutuhan diri saya sebagai manusia. bukan sebagai pecundang, manusia dengan mimpi besar dan langkah yang kecil, atau seorang
yang naïf dan hipokrit. semesta rupanya senantiasa merawat hati dan pikiran saya. diantarkanlah saya pada garis edar waktu yang membuat saya menemukan apa yang disebut sebagai persahabatan. bagai menemukan oase ditengah padang pasir yg tandus. pertemana itu barangkali mirip seperti gugusan yang membentuk rasi bintang
di langit malam. yang masing-masing dari bintang itu harus tetap memancarkan kedipan cahayanya
agar menampakkan rasi bintangnya disana. kami berlima, termasuk saya
didalamnya, barangkali seperti gemintang yang membentuk sebuah rasi itu, entah
rasi apa yang cocok untuk menggambarkan kami berlima. apakah Orion sang pemburu yang mudah ditemui, atau Andromeda yang terlihat
terang di musim gugur. apapun
itu semoga bukan seperti Apus yang terlihat redup di belahan langit selatan.
Kami
berlima adalah teman satu SMP. bahkan ada diantara kami bertiga yang sudah kenal dan berteman sejak SD, bahkan TK. namun kami semua baru menjadi akrab dan sering keluar ngopi bareng
semenjak SMK. lebih tepatnya saat masa putih abu-abu hampir berakhir. saat dimana kita
berlima mempunyai keinginan yang sama untuk melanjutkan kuliah melalui berbagai
jalur seleksi masuk. dari situ akhirnya kami berlima sering ngobrol atau
mendiskusikan tentang apapun sembari ngopi.sampai larut malam. Saat itu kami
adalah anak-anak muda yang masih ‘hijau’. pemuda-pemuda yang bingung tentang tujuan hidup dan rencana setelah
meninggalkan bangku sekolahan. meski kami semua sudah mencoba peruntungan dengan
mengikuti berbagai seleksi masuk kuliah.
Saat ini, kami, Saya, Ghufron, Rio, Hasdi
sedang menempuh studi di kampus yang berbeda. Ghufron dan Rio berbeda kampus
tapi masih satu daerah di Kota Malang, Hasdi di salah satu kampus di Lamongan,
saya sendiri harus sedikit keluar pulau jawa, di Madura. Sementara Ridik
memilih untuk bekerja di salah satu pabrik gula di daerah kami, setelah dengan
berbagai pertimbangan menolak masuk salah satu pilihan univeristas. Karena
kesibukan masing-masing kita berlima hanya kadangkala bertemu untuk sekedar
berkumpul sambil ngobrol dan ngopi bersama, berlima. Dulu, warung mas Andik
depan TPK dekat Pasar menjadi semacam basekamp bagi kami berlima. dan
kami biasa menyebutnya WK (singkatan dari Warung Kidul). Di WK, kami biasa
ngopi sambil membicarakan tentang apapun sampai larut malam. dari mulai mimpi,
tujuan hidup, tentang permasalahan sosial, politik, agama, atau sekedar obrolan menye-menye
tentang cinta dan patah hati.
saat itu semua terasa mengalir begitu saja. kita adalah sekumpulan manusia-manusia imajiner dengan mimpi-mimpi besar dan ambisi yang tidak kalah besarnya..kami saat itu seperti memiliki sumur berisi impian yang tak pernah kering. Sumur yang selalu kami usahakan untuk ditimba setiap waktu, dengan kekuatan dan keyakinan yang tertancap begitu dalam.
kemudian waktu pun berjalan. Kita tumbuh dan mendewasa. WK pindah tempat meski tidak jauh dari asalnya. tapi mimpi-mimpi kita sebagian sepertinya masih tertahan disana. lalu sekarang, bagaimana kabar mimpi-mimpi itu? apakah sumur itu benar-benar sudah kering dan habis kita timba? Semoga masih ada waktu bagi kita untuk bertemu. sekedar memeluk rindu bersama secangkir kopi dan berdistraksi, sembari berdialektika dan mencari sumur impian itu lagi.
Baca season selanjutnya: Tentang para Kopitalis
saat itu semua terasa mengalir begitu saja. kita adalah sekumpulan manusia-manusia imajiner dengan mimpi-mimpi besar dan ambisi yang tidak kalah besarnya..kami saat itu seperti memiliki sumur berisi impian yang tak pernah kering. Sumur yang selalu kami usahakan untuk ditimba setiap waktu, dengan kekuatan dan keyakinan yang tertancap begitu dalam.
kemudian waktu pun berjalan. Kita tumbuh dan mendewasa. WK pindah tempat meski tidak jauh dari asalnya. tapi mimpi-mimpi kita sebagian sepertinya masih tertahan disana. lalu sekarang, bagaimana kabar mimpi-mimpi itu? apakah sumur itu benar-benar sudah kering dan habis kita timba? Semoga masih ada waktu bagi kita untuk bertemu. sekedar memeluk rindu bersama secangkir kopi dan berdistraksi, sembari berdialektika dan mencari sumur impian itu lagi.
Baca season selanjutnya: Tentang para Kopitalis

wow!! Bagus gan ceritanya.... jd baper gue gan ...
BalasHapusmakasih gan. heuheu
Hapus