Sajak kerinduan




Menyimpan Mawar

Segumpal rindu masih menempel dari kebodohan masa lalu
Masih teringat dibenakku
harapan pernah menggenggam cinta kita
Lalu jarak melepasnya di tengah jalan

Waktu berlalu
Banyak lagu romantis bernada rindu lewat ditelingaku
Seolah menertawakan kebodohanku
Yang pernah membiarkanmu sekarat memeluk rindu

Kini kau menjelma setangkai mawar
Yang tumbuh dikebun belakang rumah
kuncupmu sudah merekah
berubah menjadi merah yang menggoda
dan aku masih dengan kebodohanku
menyimpan bau mawarmu sendirian

(Bangkalan, 11 mei 2016)


Puing

Reruntuhan asa itu meninggalkan puing-puing lara
Menjelma sepi yang menusuk hati
Siapa  menanam apa
Dipersimpangan itu aku menantimu
Memeluk rindu

(14 mei 2016)


         
Menghitung Rindu

Aku suka duduk di atap rumah
Di sepertiga malam yg lingsir
Sambil menghitung bintang kita
Yang hasiilnya selalu berupa Tanya

Seperti rindu yang tak terkalkulasi
Karena tak satu kalkulator manapun sanggup menghitungnya
Semesterius itulah rinduku, kekasih.

Bagiku,
apapun itu tak pernah sia-sia
seperti mencarimu dalam gelap
meski aku tak meyakini cinta dalam buta
Tapi sialnya aku sudah lupa
Seperti apa warna bayangmu
Yang  ku ingat hanya jingga dimatamu yg menyipit

(Kos Bangkalan, 15 juni 2016)



Pergi

aku perahu yang berlayar pergi dari dermagamu
mengarungi ombak yang mengoyak hati
biar badai rindu sekalipun
akan kuhadang, kuterjang

bagaimanapun, layar terlanjur terkembang
pantang balik kanan
biar karam, karamlah sudah

pada lautan lepas,
kulepas cintamu
kutenggelamkan bersama sisa patahan hatiku
biar hanyut, hanyutlah sudah

(Bangkalan, 29, Nov 2016)




Tidak pernah memiliki

ada orang-orang yang mabuk alcohol
ada yang mabuk dogma-dogma agama
semuanya tidak sadar diketidaksadarannya
tapi aku lebih memilih mabuk cintamu, kekasih

berdialog tentang hari esok yang absurd
bukan tentang perang senjata
atau perdebatan antar agama
bukan tentang surga-neraka
atau tentang segala perbuatan para pendosa

aku ingin besandar dibahumu
atau terlelap dipangkuanmu
melewati senja berganti petang
mendengar bisik suara binatang malam
atau melihat aurora dilangit skandinavia

semoga sunyi lekas menjemput
melewati persimpangan keramaian yang fana
menuju titik yang tak beraturan, untuk kembali
untuk melepas segala yang bukan milikku

(Lamongan, 30 april 2017)




Sekali waktu

Sekali waktu, aku ingin menepi dari keramaian.
menyusuri sepiku sendiri.
Sekali waktu, aku ingin berdialog dengan malam.
bercerita tentang cahaya yang tak pernah mengingkari gelap, yang menjadikannya ada.
Sekali waktu, aku ingin sekali saja, sekali seumur waktu.

(Bangkalan, 8 mei 2017)



Sekedar Rindu

Malam ini aku ingin merindukanmu
Seperti rindu bumi kepada hujan di awal mei
Sekedar rindu yang tak berisik
Berbisik mesra lewat simfoni nada alam dibalut saksofon Kenny G

(Bangkalan, 9 mei 2017)



Gadis kopi

Sekali waktu,
aku ingin menghabiskan malam di kedai depan sekolah itu
Sekedar berdiam lama didepan gadis kasir, memesan kopi dan senyuman.

(Bangkalan, 9 mei 2017)




Rindu

Rindu adalah sisa hujan yang membasahi jendela kaca bis kota
Dan tangan mungil penumpang yang menggambar pola berbentuk hati
Sementara matanya menatap keluar,
Bibirnya tak berhenti merapal doa

(Bangkalan, 10 mei 2017)



Baca juga: Kalicode

2 komentar: